Ponorogo, beritaplus.id – Suasana halaman MAN 2 Ponorogo, Rabu (16/9/2026) pagi, tampak berbeda. Ratusan siswa berjajar rapi dengan mengenakan beragam busana khas daerah. Mereka bersiap mengikuti Karnaval Konsulatan sebagai penutup rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang pawai budaya, tetapi juga menjadi media edukasi untuk menanamkan nilai kebersamaan, keberagaman dan semangat Bhinneka Tunggal Ika kepada para siswa.
Baca juga: Siswa MAN 2 Ponorogo Raih Juara II Duta GenRe Jatim 2026
Karnaval Konsulatan secara resmi diberangkatkan Kepala MAN 2 Ponorogo, Agung Drajatmono, M.Pd. Para peserta yang terdiri dari siswa kelas X, XI dan XII tersebut kemudian mengikuti pawai budaya dengan rute sekitar 5 kilometer di sekitar lingkungan MAN 2 Ponorogo.
Beragam busana dan atribut daerah ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Para siswa membawa simbol serta ciri khas daerah masing-masing, mulai dari kesenian tradisional, Reog, Gajah-Gajahan, makanan khas, produk unggulan hingga berbagai bentuk seni dan budaya Nusantara.
Kepala MAN 2 Ponorogo Agung Drajatmono mengatakan, Karnaval Konsulatan merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun sebagai bagian dari upaya mengenalkan keberagaman latar belakang siswa.
“Syukur Alhamdulillah beberapa rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah kita laksanakan dan berjalan lancar. Hari ini merupakan acara terakhir yang diikuti seluruh siswa. Tujuannya untuk menanamkan nilai kebhinekaan dan kebersamaan,” ujarnya.
Menurut Agung, kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa siswa MAN 2 Ponorogo tidak hanya berasal dari wilayah Kabupaten Ponorogo, tetapi juga dari berbagai daerah di luar Ponorogo bahkan dari luar provinsi.
“Dengan kegiatan ini kita ingin mengetahui sekaligus mengenalkan bahwa siswa-siswi MAN 2 Ponorogo berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ponorogo, daerah atau kota di luar Ponorogo, bahkan ada yang berasal dari luar provinsi,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Karnaval Konsulatan, Drs. H. Zain Attamim, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan keragaman asal daerah para siswa.
“Bahkan ada yang berasal dari luar kota Ponorogo dan luar provinsi yang mengenakan atribut atau ciri khas daerah masing-masing,” katanya.
Menurutnya, terdapat tidak kurang dari 20 konsulat yang menampilkan identitas dan budaya daerah masing-masing. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan untuk membangun persatuan di lingkungan madrasah.
“Kita ingin menunjukkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda tetapi satu, meskipun berbeda harus tetap menyatu melalui pawai budaya berdasarkan daerah masing-masing,” tuturnya.
MAN 2 Ponorogo Beri Ruang Sesuai Potensi Siswa
Lebih jauh, Agung Drajatmono menjelaskan bahwa konsep pendidikan di MAN 2 Ponorogo diarahkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan, minat dan potensi masing-masing peserta didik.
Menurutnya, madrasah tidak hanya berorientasi pada satu jalur pendidikan, tetapi berupaya memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai cita-cita dan bakatnya.
Bagi siswa yang memiliki orientasi pendidikan ke luar negeri, misalnya, MAN 2 Ponorogo menyediakan International Class Program. Sementara siswa dengan kemampuan khusus mendapatkan ruang melalui program percepatan pembelajaran.
“Bagi kelompok siswa yang berbakat dan memiliki kecerdasan istimewa, yang mestinya tiga tahun bisa ditempuh dua tahun,” jelas Agung.
Baca juga: Maulid Nabi di MAN 2 Ponorogo Dikemas Edukatif, Siswa Unjuk Potensi melalui Beragam Perlombaan
Selain itu, siswa yang memiliki berbagai keunggulan juga diarahkan melalui kelompok unggulan. Sedangkan mereka yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke sekolah atau perguruan tinggi kedinasan seperti STPDN, Akabri, Akpol, STAN dan lainnya, disiapkan melalui kelas kedinasan.
Bagi siswa yang ingin memperdalam pendidikan keagamaan melalui sistem pondok, MAN 2 Ponorogo juga menyediakan ma'had bagi siswa yang ingin mukim.
“Pengajarnya pun berbeda. Sekitar 30 persen dari guru yang bersangkutan, kemudian 70 persen guru profesional sesuai dengan latar belakang masing-masing,” terangnya.
Agung menyebut, salah satu kunci pengembangan MAN 2 Ponorogo adalah kemampuan membaca dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
“Rumusnya adalah menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Kita bukan penentu, tetapi pemberi semangat kepada anak-anak apa yang mereka mau,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pihak madrasah tidak ingin memaksakan siswa mengikuti program yang tidak sesuai dengan minatnya.
“Jangan sekali-kali kita memaksakan menuju program yang tidak dimaui anak. Kita siapkan apa maunya anak. Sehingga pada ending-nya anak akan menuju dunianya masing-masing,” pungkasnya.
Siswa Minta Karnaval Konsulatan Dipertahankan
Salah satu peserta Karnaval Konsulatan mengaku kegiatan tersebut layak dipertahankan dan terus digelar setiap tahun.
Baca juga: Hebat, MAN 2 Ponorogo Sabet Juara Umum Lomba PBB dan Yel-Yel 2026
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal daerah asal teman-temannya sekaligus mempererat kebersamaan antarkonsulat.
“Acara ini membuat MAN 2 Ponorogo dikenal daerah-daerah yang ada di Ponorogo serta menambah rasa kebersamaan antara warga MAN 2 Ponorogo, terutama antarkonsulat,” ujarnya.
Selain itu, peserta dapat mengenal berbagai kebudayaan dari daerah yang berbeda melalui kostum, atribut dan kesenian yang ditampilkan.
“Even ini sangat bagus karena bisa untuk menggali potensi siswa-siswi MAN 2 Ponorogo yang berasal dari berbagai daerah, termasuk luar Jawa. Terlihat antusias peserta konsulat sangat meningkat dari tahun lalu, mulai dari segi kostum, kreativitas dan lainnya,” katanya.
Ia berharap kedisiplinan serta kreativitas peserta dapat terus ditingkatkan sehingga karakter dan keunggulan masing-masing daerah semakin terlihat.
“Konsulatan ini sebagai wujud bahwa MAN 2 Ponorogo bisa diterima oleh seluruh warga Ponorogo, khususnya dari luar kota Ponorogo. Dengan konsep beberapa kecamatan membawakan khas daerahnya masing-masing dan juga budaya setempat, mereka mengambil rute sekitar MAN 2,” pungkasnya.
Karnaval Konsulatan tersebut akhirnya menjadi gambaran nyata keberagaman yang hidup di lingkungan MAN 2 Ponorogo. Perbedaan asal daerah, budaya dan karakter siswa justru dipertemukan dalam satu semangat: berbeda-beda tetapi tetap satu dalam kebersamaan.(aw)
Editor : Redaksi