Potret Buram di Kota Pasuruan. Rumah Buruh Kayu Gadingrejo Bak Kandang Ayam
Pasuruan, beritaplus.id | Sebuah rumah milik Tri Gandung Warsito (61) seorang buruh kayu di Kelurahan Randusari RT 03 RW 01, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan sangat memperhatinkan. Rumah yang ditempati sejak Tahun 1989 itu jauh dari kata layak. Mirisnya lagi rumah di kawasan perkotaan ini tidak memiliki fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai. Kamar mandi yang berlumut tidak dilengkapi dengan jamban (WC), memaksa keluarga ini harus Buang Air Besar (BAB) di sungai terdekat.
Kondisi tersebut mendapat perhatian serius kalangan NGO. Salah satunya datang dari LIRA Jatim, Ayi Suhaya. Ia datang bersama Abdul Aziz dan Zainul Jidoor langsung turun ke lokasi untuk melihat fakta di lapangan, Jumat (15/05/2026). Melihat kondisi yang dinilai "bak kandang ayam" tersebut, hati Ayi Suhaya spontan geram. Ia melayangkan kritik keras dan menuding Pemerintah Kota Pasuruan, baik pihak eksekutif maupun legislatif, sengaja menutup mata atas penderitaan warganya.
"Ini adalah bukti nyata kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan. Wali Kota dan DPRD yang ada di sini harus buka mata dan hati! Jangan pura-pura tuli dan buta. Malu kita! Rumah sekian lama bobrok dan hampir roboh tapi dibiarkan. Kalau sampai ambruk dan memakan korban jiwa, siapa yang mau bertanggung jawab?," cecar Ayi Suhaya dengan nada tinggi.
Ayi juga menyoroti adanya sisa anggaran daerah (Silpa) Kota Pasuruan yang mencapai angka Rp95,37 miliar. Menurutnya, anggaran sebesar itu seharusnya bisa digeser melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) untuk program bedah rumah secara total, bukan sekadar bantuan ala kadarnya.
"Kita ini sudah 80 tahun merdeka, tapi rakyat seolah masih dijajah oleh ego pejabatnya sendiri. Ada Silpa Rp95,37 miliar, ke mana anggaran itu? Kenapa tidak displitkan atau digeser untuk urusan mendesak seperti ini? Jangan uang negara hanya habis untuk event-event seremonial yang tidak menghasilkan dampak pro-rakyat," tambahnya.
Lebih jauh, wagub LIRA Jatim menilai fungsi pengawasan DPRD Kota Pasuruan mandul, mengingat rumah dinas Ketua DPRD sebenarnya berada tidak jauh dari lokasi kelurahan setempat. Jika jajaran Pemkot Pasuruan sudah mati rasa, Ayi mendesak otoritas yang lebih tinggi untuk mengambil alih penanganan.
“Jika Wali Kota tidak mampu menjalankan roda ekonomi dan melahirkan kebijakan pro-rakyat, silakan mengundurkan diri! Termasuk Ketua DPRD, jika tidak mampu menjembatani penderitaan masyarakat, mundur saja daripada malu,” tegas Ayi.
Pihaknya menyatakan akan melayangkan laporan resmi dan meminta Penjabat (Plh) Gubernur Jawa Timur hingga Presiden Prabowo Subianto untuk turun langsung ke Kelurahan Randusari guna mengevaluasi kinerja penanganan kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan yang dinilai acuh tak acuh.
(jin)
Editor : Redaksi