Ponorogo — beritaplus.id | Mari kita sejenak merenung bersama. Di hamparan perairan dan daratan ini, sejak lama hidup beragam suku, bahasa, dan adat. Beratus-ratus tahun, leluhur kita hidup dalam keberagaman dan belajar satu hal sederhana: di bawah langit yang sama, banyak hal bisa tumbuh bersama tanpa harus sama rupa.
Pengalaman hidup inilah yang menjadi dasar para pendiri bangsa kita merumuskan jalan ke depan. Kebijakan bebas aktif lahir bukan dari keputusan yang tergesa-gesa. Ia lahir dari pengalaman panjang bangsa ini, dari cara kita hidup berdampingan di rumah sendiri, yang kemudian menjadi cerminan cara kita hadir di tengah dunia.
Dalam berbagai forum dunia, kerap muncul keinginan untuk mendalami makna politik bebas aktif. Dan di setiap kesempatan itu, para pemimpin Nusantara dari masa ke masa senantiasa menjelaskan dengan tenang. Sebuah kehati-hatian yang mendalam kiranya diperlukan dalam setiap penyampaian ini. Kita menyadari bahwa setiap bangsa membawa sejarah dan pengalaman yang berbeda. Apa yang bagi kita terasa tenang dan bijaksana, bisa saja dipahami secara berbeda oleh pihak lain, tergantung kacamata pengalaman, kepentingan, dan ketakutan masing-masing. Bahasa yang sama bisa bermakna beragam, dan sebelum akal sempat memahami, kewaspadaan dasar sering kali lebih dulu muncul melihat sesuatu yang tidak sejalan dengan pola yang biasa mereka temui. Itulah kenyataan dalam dinamika hubungan antar bangsa.
Maka penjelasan yang terbuka, tenang, dan konsisten menjadi penting, bukan untuk meyakinkan semua orang sekaligus, tetapi untuk menghadirkan kejelasan yang mengurangi keraguan.
Bahwa politik bebas aktif bukan berarti tidak berpihak, bukan pula kebingungan dalam menentukan pilihan. Ia bukan seperti air di daun talas yang mudah bergeser ke mana pun angin berhembus. Melainkan begegeg, ugek-ugek tan kenaning owah, bergerak menyesuaikan diri, namun inti dan arah utamanya tidak berubah.
Ia adalah kekuatan yang mengayomi, yang tenang, yang mandiri, yang hadir untuk menjaga kedamaian, bukan menambah gaduhnya pertikaian dunia.
Ada hal penting yang kiranya perlu kita sadari bersama: untuk bisa konsisten pada jalannya, kita harus mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri. Kemampuan yang mumpuni tidak terwujud dengan sendirinya. Ia perlu diupayakan, antara lain dengan pengelolaan yang tepat, pemerataan yang adil, dan prioritas yang jelas. Karena tanpa kemandirian yang kuat, sikap kita akan mudah diabaikan dan tergerus oleh pihak lain.
Ketika kita tidak memihak pada pertikaian kekuatan besar dunia, bukan berarti kita berdiri jauh atau diam saja. Justru karena kita tidak menjadi milik salah satu pihak, kita bisa menjadi jembatan yang dihormati oleh semua pihak. Posisi ini bukan kelemahan. Ini adalah pilihan yang lahir dari kearifan, bahwa hidup berdampingan lebih mulia daripada ikut saling menjauhkan.
Inilah yang mungkin ingin kita sampaikan kepada dunia: bahwa berbeda tidak harus bermusuhan. Bahwa sebuah bangsa bisa kuat tanpa harus menindas, bisa hadir tanpa harus memihak, dan bisa dihormati karena menjaga kedamaian.
Ketidakberpihakan itu adalah sikap keberpihakan. Kepada kedamaian. Kepada keadilan. Kepada kemanusiaan yang lebih tinggi daripada pertikaian sesaat.
Tentu saja, pandangan ini hanyalah satu cara saya mencoba memahami. Masih banyak sudut pandang lain yang juga patut kita pelajari bersama. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.(.)
Penulis: Alumni Fakultas Hukum UNMER Malang.
Editor : Redaksi