Ponorogo, beritaplus.id | Kreativitas dan kompetensi siswa SMK Negeri 2 Ponorogo kembali mendapat panggung. Kali ini, karya para siswa Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana tampil memukau dalam Street Fashion Carnival yang menjadi bagian dari rangkaian Ponorogo Creative Festival 2026, Kamis (6/8/2026) malam.
Berlangsung di Jalan Alun-Alun Utara, tepatnya di depan Paseban Ponorogo, penampilan SMKN 2 Ponorogo berhasil menarik perhatian masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.
Baca juga: TPA Mrican Baru Seluas 9,4 Hektare Segera Dibangun, Pemkab Ponorogo Siapkan Anggaran Rp15 Miliar
Mengusung tema “Oversized Asimetris”, koleksi busana yang ditampilkan memadukan siluet oversized dengan potongan asimetris bernuansa modern. Menariknya, sentuhan desain kontemporer tersebut tetap mengangkat kekayaan wastra Indonesia, seperti batik, tenun, dan lurik.
Karya tersebut tidak hanya menjadi pertunjukan fesyen, tetapi juga menjadi gambaran nyata penerapan pembelajaran berbasis proyek atau project based learning di lingkungan pendidikan vokasi.
Para siswa terlibat secara langsung dalam berbagai tahapan, mulai dari merancang konsep dan desain, memproduksi busana, melakukan fitting, menyiapkan tata rias dan rambut, hingga tampil membawakan karya di hadapan masyarakat.
Kepala SMK Negeri 2 Ponorogo, Suryanto, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan sekolah dalam festival tersebut menjadi media pembelajaran sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan kompetensi siswa kepada masyarakat luas.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa karya yang ditampilkan merupakan hasil kreativitas dan proses pembelajaran murid. Mereka terlibat mulai dari perancangan desain, produksi busana, tata rias, hingga presentasi karya di atas panggung,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman tampil di ruang publik menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi siswa, khususnya dalam menghadapi dunia kerja dan industri kreatif.
“Inilah implementasi pendidikan vokasi yang mengedepankan kompetensi, kolaborasi, dan pengalaman nyata,” imbuhnya.
Seluruh busana yang diperagakan merupakan karya siswa Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana. Penampilan semakin lengkap melalui kolaborasi dengan siswa Konsentrasi Keahlian Tata Kecantikan Kulit dan Rambut yang menangani tata rias serta penataan rambut.
Sementara itu, peragaan busana dilakukan oleh anggota Ekstrakurikuler Fashion Show dengan pendampingan guru pembimbing.
Persiapan dilakukan secara bertahap selama beberapa pekan. Para siswa menjalani proses mulai dari penyusunan konsep desain, produksi busana, penyempurnaan detail, fitting, hingga latihan koreografi.
Seluruh tahapan tersebut menjadi pengalaman belajar yang diarahkan pada budaya kerja industri, sekaligus melatih kedisiplinan, kreativitas, kerja sama, dan tanggung jawab siswa.
Padukan Modernitas dan Wastra Indonesia
Pemilihan tema “Oversized Asimetris” menjadi bentuk keberanian para siswa dalam mengeksplorasi perkembangan dunia fesyen.
Siluet oversized memberikan kesan modern dan dinamis, sedangkan potongan asimetris merepresentasikan keberagaman yang dapat dipadukan dalam sebuah harmoni.
Kekayaan wastra Indonesia kemudian dihadirkan melalui penggunaan material seperti batik, tenun, dan lurik yang dikombinasikan dengan pendekatan desain kontemporer.
Hasilnya, karya busana tersebut mampu menghadirkan karakter modern tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia.
Dominasi warna merah dan hitam juga menjadi identitas visual koleksi yang ditampilkan.
Merah merepresentasikan semangat dan keberanian, sedangkan hitam mencerminkan ketegasan, kekuatan, serta karakter budaya Ponorogo.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMK Negeri 2 Ponorogo, Tarmin, S.Kom., mengatakan keterlibatan sekolah dalam Ponorogo Creative Festival merupakan bagian dari upaya memperluas eksposur karya siswa.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat sinergi antara sekolah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta masyarakat.
“Festival ini menjadi ruang bagi murid untuk menunjukkan kompetensi yang dimiliki sekaligus membangun kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di ruang publik,” kata Tarmin.
Ia menambahkan, kolaborasi antarkonsentrasi keahlian dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran vokasi dapat dilakukan secara terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan industri.
“Kolaborasi antarkonsentrasi keahlian dalam kegiatan ini mencerminkan implementasi pembelajaran vokasi yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan industri,” ungkapnya.
Melalui keikutsertaan dalam Street Fashion Carnival Ponorogo Creative Festival 2026, SMKN 2 Ponorogo menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan, tetapi juga mendorong siswa untuk berani berkarya, berinovasi, tampil di ruang publik, serta mengembangkan potensi industri kreatif berbasis budaya.
Karya “Oversized Asimetris” menjadi salah satu bukti bahwa kreativitas generasi muda dapat menjadi jembatan antara perkembangan fesyen modern dan kekayaan budaya Indonesia.
(aw)
Editor : Redaksi