Tari Mapak Duto Satrio Bawa Baosan Kidul Juara Tayub Kreasi Terunik Se-Ponorogo  

Reporter : Murti
Para pemenang Lomba bersama kepala Desa Karang Patihan, DPRD Kab. Ponorogo Dan Dewan juri

Ponorogo - beritaplus.id | Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, mengukir prestasi membanggakan dengan meraih Juara Tayub Kreasi Terunik dalam ajang Festival Langen Tayub Se-Ponorogo. Festival yang diikuti 30 kelompok seni tayub se-Kabupaten Ponorogo ini berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2026 di Lapangan Desa Karangpatihan.


 Dewan Juri :Wisnu Hadi P. Nurul M., S.Pd. Fajar Frela Mustika, S.Sn

Baca juga: Esai Reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Memahami Dilema di Tengah Harapan dan Keterbatasan Kepemimpinan Desa

Kegiatan berlangsung meriah dan dihadiri Plt. Bupati Ponorogo (diwakili Dinas Pariwisata), jajaran DPRD Kabupaten Ponorogo, unsur Forpimcam Kec. Balong serta seluruh perangkat Pemerintah Desa Karangpatihan.
 
Dewan juri yang menilai penampilan para peserta antara lain Wisnu Hadi P. (Ketua Dewan Kesenian Ponorogo). Nurul M., S.Pd. (Lulusan Sekolah Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta). Fajar Frela Mustika, S.Sn. (Lulusan Seni Tari, ISI Surakarta)

Baca juga: Esai Reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Politik Bebas Aktif, Kearifan Nusantara Persembahan untuk Kedamaian Dunia  

Para penari Mapak Duto Satrio (Satrio Sardulo) berfoto bersama di Pendopo Balai Desa Baosan kidul usai mengikuti Festival Tari Tayub se-kab.Ponorogo

Baca juga: Esai reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Kebijakan Fiskal dalam Sungai yang Berbeda Keniscayaan Ketimpangan 

Baosan Kidul tampil memukau dengan membawakan Tari Mapak Duto Satrio, yang berhasil memikat dewan juri dan penonton.
 
Kepala Desa Baosan Kidul, KRT. Dzulhijjah Fajar, S.H., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh seniman serta penyelenggara, khususnya kepada KRAT. Eko Mulyadi, S.I.P., M.Pd. selaku Kepala Desa Karangpatihan yang telah berinisiatif mengangkat seni tayub hingga ke tingkat kabupaten.
 
"Tari Mapak Duto Satrio adalah tari yang kami kembangkan dari cerita tutur sebuah situs di desa kami, yaitu Rambut Dalem — sebuah situs yang dipercaya sebagai petilasan Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa. Tarian ini adalah tari sakral yang sebenarnya hanya ditarikan saat menjemput tamu terhormat, ditarikan bagaikan prajurit yang mengawal tamu kehormatan. Penarinya biasa disebut Satrio Sardulo, Atmojo Sardulo, dan kerap kali Gembong Simo hadir mengawal tamu memasuki kedaton. Artinya, kami bersyukur dapat memperoleh penghormatan ini," ujar KRT. Dzulhijjah Fajar, S.H.
 
Prestasi ini menjadi bukti kekayaan budaya dan kearifan lokal yang terus dijaga dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Baosan Kidul, sekaligus memperkuat posisi seni tradisional Ponorogo di mata masyarakat luas. ( Murti )

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru