Ponorogo, beritaplus.id – Moreno Azka Evanjiro dari SMAN 2 Ponorogo dan Nadia Shofi Fatikasari dari Universitas Brawijaya resmi dinobatkan sebagai Kakang dan Senduk Ponorogo Tahun 2026.
Keduanya terpilih dalam Grand Final Pemilihan Duta Wisata Kakang Senduk Ponorogo 2026 yang digelar di Gedung Kesenian Padepokan Reyog Ponorogo, Sabtu (7/11/2026) malam, mulai pukul 19.00 WIB.
Baca juga: MPLS SMAN 2 Ponorogo Resmi Ditutup, 396 Siswa Baru Siap Menorehkan Prestasi
Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut menjadi puncak rangkaian seleksi panjang untuk menentukan generasi muda yang akan menjadi representasi Kabupaten Ponorogo dalam mempromosikan potensi pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.
Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Oki Widyanarko, menyampaikan bahwa pelaksanaan Grand Final Kakang Senduk Ponorogo 2026 berjalan sukses, lancar, dan luar biasa meriah.
“Alhamdulillah, pemilihan Duta Wisata Kakang Senduk Ponorogo 2026 mengambil tema ‘Digdaya Pramanaraga’ yang berangkat dari refleksi terhadap jati diri Ponorogo. Pramanaraga bermakna kekuatan yang tumbuh dari olah diri, keteguhan batin, dan kemampuan menempatkan diri,” jelas Oki kepada awak media usai acara.
Menurutnya, pemilihan Kakang Senduk merupakan ajang pencarian figur muda yang diharapkan mampu menjadi representasi Kabupaten Ponorogo.
Melalui kegiatan tersebut, generasi muda diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, wawasan, serta kepedulian terhadap daerah. Keberadaan duta wisata juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan potensi pariwisata kepada masyarakat luas melalui berbagai kegiatan dan program kebudayaan.
Sementara itu, Kepala Disbudparpora Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, S.Sos., M.Si., berharap keterlibatan generasi muda dalam mempromosikan pariwisata dan kebudayaan daerah semakin berkembang melalui ajang tersebut.
Ia menjelaskan, pendaftaran Kakang Senduk Ponorogo 2026 dibuka mulai 5 hingga 9 Oktober 2026 dan berhasil menjaring sebanyak 277 pendaftar.
Setelah melalui tahapan seleksi administrasi dan beberapa proses penyaringan, jumlah peserta terus mengerucut. Dari 277 pendaftar, tersisa 144 peserta, kemudian 88 peserta, hingga akhirnya terpilih 20 finalis yang terdiri atas 10 pasang Kakang dan Senduk untuk melaju ke babak Grand Final.
Seluruh finalis juga telah mengikuti pembekalan mengenai berbagai potensi daerah, mulai dari pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, UNESCO, wisata religi, hingga sejarah Kabupaten Ponorogo.
“Jadi, Kakang Senduk Ponorogo nantinya tidak hanya menjadi duta wisata, tetapi juga harus mampu menjadi duta budaya sekaligus duta Kota Kreatif Dunia UNESCO,” ungkapnya.
Baca juga: Bentuk Karakter Religius, SMAN 2 Ponorogo Gelar SIF 2026 Diikuti 696 Peserta
Di tempat yang sama, Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, menyampaikan bahwa pemilihan Kakang Senduk merupakan bagian dari proses pembentukan generasi muda yang memiliki karakter, kecerdasan, kepribadian, wawasan budaya, serta kepedulian terhadap masa depan pariwisata daerah.
Bunda Lisdyarita berharap Kakang dan Senduk terpilih tidak hanya menjadi duta wisata ketika berlangsung acara seremonial. Lebih dari itu, mereka harus benar-benar menjadi agen promosi pariwisata Ponorogo dengan memanfaatkan media sosial, kreativitas digital, kemampuan komunikasi, serta jejaring anak muda untuk memperkenalkan Ponorogo kepada dunia.
“Jadikan setiap kanal digital sebagai panggung untuk memperkenalkan bahwa Ponorogo adalah daerah yang kaya budaya, memiliki potensi wisata, dan masyarakatnya penuh kreativitas,” ujarnya.
Menurutnya, malam Grand Final merupakan momentum istimewa bagi seluruh peserta setelah melalui berbagai tahapan seleksi. Siapa pun yang terpilih merupakan generasi muda pilihan yang telah menunjukkan keberanian, kemampuan, dan potensi luar biasa.
Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda harus mampu menjadi pribadi yang tidak hanya bangga terhadap daerahnya, tetapi juga membuat orang lain ikut bangga terhadap Ponorogo.
“Sebagai generasi muda yang membawa identitas budaya dan potensi daerah kepada masyarakat luas, Ponorogo memiliki kekayaan budaya, sejarah, tradisi, alam, dan potensi pariwisata. Reog Ponorogo telah mendapatkan pengakuan dunia melalui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Kita juga memiliki Telaga Ngebel, monumen dan museum peradaban, destinasi wisata desa, kesenian, kuliner, hingga tradisi masyarakat yang menjadi kekuatan identitas pariwisata dan harus kita promosikan dengan baik,” paparnya.
Baca juga: Halal bi Halal SMA Negeri 2 Ponorogo Pererat Silaturahmi Alumni Pasca Keberkahan Idul Fitri 1447 H
Lebih lanjut, Bunda Lisdyarita menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Ponorogo terus berkomitmen mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama mempromosikan destinasi wisata, mendorong produk UMKM lokal, melestarikan budaya, serta menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan bagi setiap pengunjung.
“Kita ingin orang datang ke Ponorogo karena keindahan alamnya, kembali karena budayanya, dan selalu rindu karena keramahan masyarakatnya,” tuturnya.
Bunda Lisdyarita berharap Grand Final Kakang Senduk Ponorogo 2026 menjadi momentum untuk membangkitkan semangat generasi muda dalam mencintai budaya, mengembangkan pariwisata, dan membawa nama Kabupaten Ponorogo semakin dikenal luas.
“Mari kita jadikan Grand Final Kakang Senduk Kabupaten Ponorogo Tahun 2026 ini sebagai momentum membangkitkan semangat generasi muda untuk mencintai budaya, mengembangkan pariwisata, dan membawa nama Ponorogo semakin dikenal luas,” pungkasnya.
Dengan terpilihnya Moreno Azka Evanjiro dan Nadia Shofi Fatikasari, diharapkan keduanya mampu mengemban amanah sebagai Duta Wisata Ponorogo 2026 serta menjadi bagian dari promosi potensi daerah di tingkat nasional maupun internasional.(aw)
Editor : Redaksi