Densus 88 Masuk Sekolah di Madiun, Edukasi Anti-Bullying dan Cegah Radikalisme Pelajar

Reporter : Murti

Madiun, beritaplus.id – Komitmen mencegah perundungan (bullying) dan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme (IRET) di kalangan pelajar terus diperkuat. Tim Satgaswil Jawa Timur Densus 88 Antiteror Polri turun langsung memberikan edukasi di SMAN 1 Dagangan, Kabupaten Madiun, Senin (6/4/2026).

Kegiatan sosialisasi yang digelar di aula sekolah tersebut diikuti oleh 18 guru dan lima perwakilan siswa OSIS. Hadir dalam kegiatan itu Kepala SMAN 1 Dagangan Muhadi Prayitno, jajaran wakil kepala sekolah, para guru, serta Bhabinkamtibmas Polsek Dagangan Bripka Irawan.

Kepala SMAN 1 Dagangan, Muhadi Prayitno, mengapresiasi kehadiran Densus 88 yang dinilai memberikan penguatan penting dalam membangun karakter siswa.

“Kegiatan ini sangat penting dalam membentuk siswa yang berintegritas serta menjunjung tinggi nilai toleransi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pihak sekolah selama ini telah menerapkan berbagai langkah preventif, mulai dari penguatan pendidikan karakter, kebijakan anti-bullying, hingga penyediaan kanal pelaporan aman bagi siswa.

“Nilai empati, toleransi, dan saling menghargai terus kami tanamkan dalam kegiatan pembelajaran dan program sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, narasumber dari Densus 88 AT Polri, AKP Jauhari, menegaskan bahwa terorisme tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang yang berawal dari intoleransi hingga berkembang menjadi radikalisme.

“Radikalisme bisa menyasar siapa saja, termasuk pelajar. Ini harus diantisipasi sejak dini,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital dan media sosial menjadi salah satu jalur utama penyebaran paham radikal, sehingga generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpapar.

Menurutnya, peran guru dan orang tua sangat krusial dalam melakukan deteksi dini, meningkatkan literasi digital, serta membangun komunikasi yang sehat dengan anak.

Dalam sesi diskusi, peserta diajak untuk lebih kritis terhadap informasi di media sosial, menyebarkan konten positif, serta waspada terhadap hoaks dan propaganda radikal.

Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat antusias tinggi dari peserta. Pihak sekolah bersama OSIS pun berkomitmen untuk menjadi agen perubahan dalam menyebarkan nilai toleransi, kebangsaan, dan anti-kekerasan di lingkungan sekolah.

Melalui edukasi ini, diharapkan sekolah dapat menjadi ruang aman bagi pelajar, bebas dari perundungan, serta menjadi benteng awal dalam mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan generasi muda.(*)

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru