Urik Urih Budaya: Sedekah Desa Ngayung, Keselarasan Warisan Leluhur yang Tetap Utuh

Reporter : Muhajir

Lamongan, beritaplus.id | Di tengah arus zaman yang terus bergerak maju, Desa Ngayung Kecamatan Maduran justru berdiri tegak menjaga kearifan lokal. 

Semangat urik urih budaya Jawa melestarikan dan mewarisi budaya leluhur  menjadi napas kehidupan warga setempat dalam gelaran Sedekah Desa yang berlangsung penuh kebersamaan. 

Baca juga: Pelaksanaan Haul Syekh Abdul Qodir Hamid Tahun Ini Disorot, Warga Dorong Evaluasi

Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bukti nyata bahwa ikatan silaturahmi dan rasa syukur atas berkah alam tetap menjadi pondasi utama kehidupan bermasyarakat.
 
Kamis (20/8/2026) rangkaian acara dimulai sejak pagi hari, 4 orang Nyapen  ( panitia inti ) yang ditunjuk membawa tumpeng nasi ketan masing-masing sebanyak 50 buah. 

Total 200 tumpeng tersebut kemudian dibagikan kepada 150 orang warga yang memiliki lahan sawah sekitar satu hektar selanjutnya disebut Gogol

Pembagian ini bukan sekadar pembagian nasi ketan, melainkan wujud rasa syukur para pengelola lahan atas hasil bumi yang diraih, sekaligus bentuk kebersamaan antar warga yang mengandalkan mata pencaharian dari pertanian.
 
Sekitar pukul 08.00 pagi, suasana semakin meriah seekor kerbau diarak penitia bersama warga menuju lokasi acara 

Hewan tersebut nantinya akan disembelih dan dagingnya dibagikan merata kepada seluruh warga, sebuah tradisi berbagi yang mengajarkan keadilan dan kebersamaan.

Usai kerbau disembelih, dimulailah proses pengolahan daging untuk dibagikan kepada warga. 

Di sinilah salah satu keunikan tradisi ini tampak jelas, seluruh kegiatan memasak daging kerbau dilakukan sepenuhnya oleh kaum laki-laki, dan tidak ada satu pun perempuan yang terlibat. 

Hal ini bukan pembatasan, melainkan bagian dari tata cara turun-temurun yang dipegang teguh warga, bentuk pembagian tugas dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelancaran acara secara gotong royong

Memasuki sore hari, warga berduyun-duyun berdatangan ke lokasi acara. 

Baca juga: Jaga Tradisi, Warga Desa Ngayung Peringati Nyadran Syekh Abdul Qodir Hamid

Masing-masing membawa takir berisi makanan sederhana yang kemudian ditukar dengan daging kerbau yang telah disiapkan panitia. 

Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih khidmat warga tua, muda, berkumpul untuk doa bersama, memohon berkah, keselamatan, dan kemajuan bagi desa. 

Acara puncak ditutup dengan pengajian agama, menguatkan iman sekaligus memperkokoh persaudaraan

Kami terus menjaga tradisi ini bukan tanpa alasan, urik urih budaya itu berarti kami tidak melupakan asal-usul. 

Hampir seluruh warga perantau pun sengaja pulang kampung untuk hadir ini bukti bahwa meski pergi jauh, hati mereka tetap di Ngayung. 

Sedekah desa bukan sekadar acara, melainkan pengikat persaudaraan, pengingat rasa syukur, dan jati diri kami sebagai warga desa yang menghargai leluhur dan sesama

Lebih lanjut tradisi yang hidup di tengah perubahan di era yang serba modern, tradisi seperti ini kerap menghadapi tantangan. 

Namun Desa Ngayung menunjukkan bahwa budaya dan kemajuan bisa berjalan beriringan. 

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang rekonsiliasi sosial, tempat warga saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan, tutur salah satu warga
 
Sedekah Desa Ngayung mengajarkan satu hal penting, kemajuan tidak harus melupakan akar, dan modernitas tidak perlu menghapus kearifan lokal. 

Selama semangat berbagi dan bersyukur masih terjaga, tradisi ini akan terus hidup dan menjadi warisan yang berharga bagi generasi mendatang.(ajr)

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru