Ponorogo, beritaplus.id – Upaya melestarikan budaya bangsa sekaligus memperkuat regenerasi seniman tradisional diwujudkan melalui pagelaran kolaborasi wayang kulit dan Reog Ponorogo lintas generasi bertajuk “Terjadinya Reog Ponorogo”. Kegiatan perdana di Ponorogo ini digelar Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama Pepadi Ponorogo pada Sabtu (10/10/2026) malam di Mixzone Creative Hub, Jalan Pramuka Nomor 19, Ponorogo.
Pagelaran yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut mendapat sambutan antusias masyarakat. Warga memadati lokasi acara untuk menyaksikan perpaduan seni pedalangan dengan kesenian Reog Ponorogo dalam sebuah pertunjukan yang menghadirkan semangat pelestarian budaya sekaligus inovasi seni lintas generasi.
Baca juga: TPA Mrican Baru Seluas 9,4 Hektare Segera Dibangun, Pemkab Ponorogo Siapkan Anggaran Rp15 Miliar
Keistimewaan pagelaran ini terletak pada keterlibatan delapan dalang dari berbagai kelompok usia, yakni dua dalang anak, dua dalang remaja, dua dalang muda, dan dua dalang dewasa. Komposisi tersebut menjadi simbol pentingnya regenerasi dalam menjaga keberlangsungan seni pedalangan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.
Ketua Perkumpulan Sekar Manik Danirogo (PSMD) Ponorogo, Sindu Parwoto, M.Si., menjelaskan bahwa PSMD merupakan wadah persatuan para pelaku seni pertunjukan wayang yang terdiri atas dalang, niyaga atau pengrawit, serta waranggana atau pesinden.
“Perkumpulan Sekar Manik Danirogo merupakan wadah yang menyatukan para pelaku seni dengan kebulatan tekad, niat, dan kehendak yang sama untuk berkarya seni yang luhur, etis, estetis, edukatif, dinamis, dan harmonis,” ujarnya.
Menurut Parwoto, PSMD sebagai organisasi seni berkomitmen berperan aktif dalam membangun dan memajukan kebudayaan bangsa melalui upaya menjaga, melestarikan, serta mengembangkan seni pedalangan sebagai warisan budaya Indonesia.
Ia menegaskan, keberadaan PSMD diharapkan mampu mendorong kreativitas dan produktivitas para pelaku seni pedalangan, khususnya generasi muda, sekaligus menjadi ruang transformasi dan regenerasi seniman.
“Tujuan pendirian PSMD adalah melestarikan dan mengembangkan seni tradisional, khususnya seni pedalangan, mendorong kreativitas para pelakunya, serta melakukan transformasi dan regenerasi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai luhur yang tercermin dalam pagelaran wayang kulit,” jelasnya.
PSMD juga diharapkan menjadi ruang bagi para dalang, niyaga, dan waranggana untuk meningkatkan kompetensi, mengekspresikan kreativitas, serta mengaktualisasikan kemampuan mereka. Melalui pertunjukan yang edukatif, masyarakat dari berbagai kelompok usia diharapkan semakin mengenal dan mencintai seni tradisional.
Parwoto menambahkan, PSMD merupakan organisasi berbadan hukum berdasarkan Keputusan Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-0001553.AH.01.07.TAHUN 2023, dengan alamat sekretariat di Jalan Wibisono 89C, Kepatihan, Ponorogo.
Ia berharap kehadiran PSMD dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah, terutama dalam pemajuan kebudayaan dan penguatan ketahanan budaya melalui regenerasi pelaku seni.
“Dengan adanya PSMD, kami berharap lahir generasi seni pedalangan, baik dalang, niyaga maupun waranggana, yang berkarakter, berakhlak mulia, memiliki rasa cinta tanah air, serta bangga terhadap seni budayanya,” terangnya.
Lebih lanjut, Parwoto berharap PSMD dapat menjadi aset daerah sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan Ponorogo yang unggul di bidang kebudayaan, khususnya seni pedalangan.
Ia juga mengharapkan terjalinnya sinergi dengan pemerintah daerah, Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, Pepadi Ponorogo, sanggar pedalangan, sekolah, serta para pegiat dan pemerhati budaya.
Dalam kesempatan tersebut, Parwoto menyampaikan harapan kepada Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita agar memberikan perhatian terhadap keberlangsungan organisasi seni dan para pelaku budaya.
Ia menyampaikan harapan melalui filosofi “NGALIM”, yakni Ngakoni, Ngayomi, Ngopeni, Nguripi, dan Ngiyupi, sebagai gambaran dukungan dan keberpihakan terhadap para pelaku seni budaya.
Kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, ia berharap PSMD dapat menjadi salah satu organisasi prioritas untuk memperoleh pendampingan, pembinaan, dukungan, serta dilibatkan sebagai mitra kerja dalam program pemajuan kebudayaan.
Parwoto juga mengajak seluruh pelaku seni, terutama generasi muda, untuk terus berkarya dan membuka ruang kolaborasi.
“Saatnya yang muda berkarya, bersinergi, berkolaborasi, dan berkreasi. Jangan cepat puas dalam berkarya. Teruslah menghadirkan gagasan inspiratif, inovatif, kreatif, dan diwujudkan melalui aksi nyata,” ajaknya.
Ia menutup pesannya dengan semangat persatuan dan gotong royong dalam berkesenian.
“Tunjukkan bahwa bersama kita bisa, bersatu kita maju, berbudaya kita sentosa. Sepi ing pamrih, rame ing gawe; rawe-rawe rantas, malang-malang putung,” tegasnya.
BPK Wilayah XI Apresiasi Inovasi Kolaborasi Budaya
Di tempat yang sama, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, Sri Sugiarto, S.S., M.Pa., mengapresiasi langkah PSMD dalam menghadirkan kolaborasi wayang kulit dan Reog Ponorogo lintas generasi.
Menurutnya, pelestarian kebudayaan pada masa kini membutuhkan kreativitas dan inovasi agar warisan budaya tetap relevan serta diminati generasi muda, termasuk Generasi Z.
“Kolaborasi wayang dan reog lintas generasi ini merupakan langkah yang baik karena pelestarian kebudayaan saat ini memerlukan kreasi dan inovasi sebagai strategi untuk menarik Gen Z agar tetap mencintai warisan budaya kita,” ungkapnya.
Apresiasi tersebut menjadi penguatan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga perlu membuka ruang pengembangan dan pendekatan baru tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Pemkab Ponorogo Dukung Pengembangan Budaya
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, S.Sos., M.Si., yang hadir mewakili Plt. Bupati Lisdyarita, menyampaikan terima kasih kepada PSMD atas inisiatif mengembangkan kreativitas budaya melalui kolaborasi wayang kulit dan Reog Ponorogo.
Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Ponorogo memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai daerah kreatif yang mampu memadukan tradisi, seni pertunjukan, dan inovasi.
Judha menilai pewarisan Reog Ponorogo membutuhkan proses transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam upaya tersebut, seni pedalangan dapat menjadi salah satu media untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya Reog Ponorogo kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui Disbudparpora mendukung berbagai karya dan pengembangan kebudayaan yang dilakukan PSMD.
“Wayang dan reog merupakan warisan budaya yang menjadi keistimewaan sekaligus kebanggaan masyarakat Ponorogo,” pungkasnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan penyerahan tokoh wayang kulit kepada delapan dalang lintas generasi yang terlibat dalam pagelaran tersebut.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menjaga keberlanjutan seni pedalangan dan Reog Ponorogo, sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Ponorogo.(aw)
Editor : Redaksi