PONOROGO, Beritaplus.id – Pemerintah Kabupaten Ponorogo terus mendorong lahirnya berbagai inovasi guna meningkatkan Indeks Inovasi Daerah (IID). Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui penyelenggaraan Ponorogo Inotek Award 2026 yang diikuti sebanyak 78 inovator dari berbagai sektor.
Perhelatan yang dikemas dalam rangkaian Kemilau Pekan Raya Ponorogo 2026 tersebut resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, di Alun-alun Ponorogo, Selasa (3/11/2026).
Baca juga: Lepas Kontingen POPDA 2026, Ponorogo Targetkan Tembus 10 Besar Jawa Timur
Kegiatan ini menjadi wadah bagi perangkat daerah, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, sektor kesehatan, hingga pemerintah desa untuk menampilkan berbagai gagasan dan karya inovatif yang berpotensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) Kabupaten Ponorogo, Luhur Apidianto, mengatakan bahwa inovasi merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Terlebih, pemerintah pusat menjadikan Indeks Inovasi Daerah sebagai salah satu instrumen untuk mengukur perkembangan inovasi di masing-masing daerah.
“Pemerintah pusat mengukur kinerja inovasi pemerintah daerah melalui Indeks Inovasi Daerah,” ujar Luhur dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan.
Menurutnya, capaian Kabupaten Ponorogo dalam penilaian inovasi daerah masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Berdasarkan data Indeks Inovasi Daerah tahun 2025 yang ditampilkan dalam bahan paparan Ponorogo Inotek Award, Ponorogo memperoleh skor 51,26.
Kondisi tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk semakin aktif menggali, menghimpun, serta mengembangkan berbagai inovasi yang dihasilkan oleh instansi pemerintah maupun masyarakat.
“Antusiasme pada penyelenggaraan perdana ini luar biasa. Tercatat ada 78 inovator yang berpartisipasi,” ungkapnya.
Dalam kompetisi tersebut, terdapat tujuh kategori yang dilombakan, meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, organisasi perangkat daerah (OPD), kesehatan, desa atau pemerintah desa, serta kategori terinovatif.
Dari seluruh peserta, proses seleksi dilakukan hingga menghasilkan lima finalis pada setiap kategori. Selanjutnya, para finalis akan memperebutkan juara pertama, kedua, dan ketiga. Para pemenang nantinya memperoleh uang pembinaan, dengan pengumuman dan penganugerahan dijadwalkan pada November 2026.
Luhur menjelaskan, proses penilaian diawali dengan tahapan pengumuman dan pendaftaran, dilanjutkan pengumpulan dokumen persyaratan serta pemenuhan indikator kesiapan inovasi.
Baca juga: Kemilau Pekan Raya Ponorogo Digelar 3–6 November 2026, Hadirkan Last Child dan Ndarboy Genk
Tim penilai kemudian melakukan evaluasi terhadap tingkat kematangan inovasi, mulai dari penerapan, perubahan kondisi sebelum dan sesudah inovasi, manfaat yang dihasilkan, hingga peluang untuk direplikasi di wilayah atau instansi lain.
Dewan juri melibatkan dua profesor, perwakilan Baperida, akademisi perguruan tinggi, serta unsur Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Menurut Luhur, kompetisi ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan berbagai inovasi yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat, termasuk karya-karya kreatif dari sekolah-sekolah di wilayah pinggiran Ponorogo.
Ia berharap, melalui kegiatan tersebut, budaya inovasi semakin berkembang dan tidak berhenti sebatas menghasilkan gagasan baru, tetapi juga mampu diwujudkan dalam program nyata yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Harapannya, Ponorogo Inotek Award menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki capaian Indeks Inovasi Daerah. Inovasi harus benar-benar diterapkan, memiliki bukti pendukung, memberikan manfaat nyata, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Expo Inovasi Berlangsung Tiga Hari
Baca juga: TPA Mrican Baru Seluas 9,4 Hektare Segera Dibangun, Pemkab Ponorogo Siapkan Anggaran Rp15 Miliar
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Baperida Kabupaten Ponorogo juga menggelar Expo Inovasi pada 3–5 November 2026 di Alun-alun Ponorogo.
Pameran tersebut menjadi sarana bagi para inovator untuk memperkenalkan hasil karya dan gagasannya secara langsung kepada masyarakat. Berbagai kegiatan turut disiapkan, mulai dari pengenalan produk inovasi, talk show, pertunjukan musik, hingga interaksi antara peserta dan pengunjung.
Baperida menyediakan fasilitas berupa tenda dan partisi tenant, sedangkan masing-masing peserta bertanggung jawab atas dekorasi serta penataan stan pameran.
Melalui Ponorogo Inotek Award 2026 dan Expo Inovasi ini, Pemerintah Kabupaten Ponorogo berharap semakin banyak potensi inovasi lokal yang teridentifikasi, dikembangkan, dan direplikasi.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, akademisi, sektor kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun budaya inovasi demi kemajuan Kabupaten Ponorogo. (aw)
Editor : Redaksi