Kolaborasi Reog Inklusif Ponorogo Curi Perhatian Peserta Workshop Nasional Muhammadiyah
Ponorogo - beritaplus.id | Kolaborasi dua grup reog andalan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Ponorogo, yakni Reog Taruno Suryo SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (SMA Muhipo) dan Suryo Netro Budoyo LKS Tunanetra ‘Aisyiyah Ponorogo, sukses memukau peserta Workshop Nasional LPCRPM, Sabtu (31/10/2026) malam.
Penampilan kedua grup kesenian tersebut menjadi suguhan istimewa dalam rangka menyambut para tamu dari berbagai daerah di Indonesia. Dikemas melalui agenda bertajuk “Jagongan Budaya”, pertunjukan ini sekaligus menjadi wujud pelestarian seni dan budaya lokal di tengah penguatan gerakan ekonomi persyarikatan.
Sebanyak 75 peserta workshop mengikuti kegiatan tersebut setelah sebelumnya menghadiri pembukaan Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship pada Jumat sore (30/10/2026). Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu berlangsung di aula SMA Muhipo Ponorogo.
Apresiasi dan kekaguman disampaikan Helmi Kurniawan, salah satu peserta asal Yogyakarta yang mewakili Masjid Al-Irsyad PDM Yogyakarta.
Usai menikmati sajian sate ayam khas Ponorogo, Helmi mengungkapkan kesan positifnya terhadap fasilitas yang disediakan panitia serta keramahan tuan rumah selama kegiatan berlangsung.
“Ini luar biasa. Kami baru pertama kali mengikuti workshop yang diselenggarakan di lingkungan SMA. Suasananya sangat nyaman, ramah, dan ruang kelasnya sangat memadai untuk belajar maupun beristirahat,” tuturnya bangga.
Ia berharap berbagai ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama workshop dapat segera dikembangkan dan diaplikasikan untuk memperkuat dakwah sekaligus mendorong kemandirian ekonomi di lingkungan masjid daerah asal masing-masing.
Di tempat yang sama, Ketua LPCRPM Ponorogo, Suhandoko, menyampaikan rasa syukur karena Ponorogo dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional tersebut.
Menurutnya, Ponorogo memiliki potensi dan perkembangan yang cukup pesat dalam pengembangan amal usaha ekonomi Muhammadiyah sehingga dinilai layak menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan jaringan Surya Mart yang kini ekspansinya tidak hanya menjangkau wilayah Ponorogo, tetapi juga mulai merambah daerah lain. Bahkan, Surya Mart telah menjalin pengembangan jaringan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui jaringan distributor resmi.
Selain itu, model pengembangan ekonomi berbasis masjid yang dimotori Masjid Baitul Mukhlisin melalui pendirian Surya Mart dan Resto Mu juga menjadi contoh konkret bagaimana masjid dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat amal usaha ekonomi di tingkat cabang dan ranting, sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi persyarikatan.
Dalam workshop nasional ini, peserta mendapatkan berbagai materi dan pembekalan praktis. Pada hari pertama, materi meliputi pengelolaan ekonomi yang disampaikan tim DSS Surya Mart, Ketua LPCRPM Wilayah Jawa Timur, Direktur Masjid Baitul Mukhlisin, serta perwakilan perbankan syariah.
Sementara itu, pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada penyusunan perencanaan strategis pengembangan ekonomi di tingkat cabang dan ranting. Peserta diharapkan mampu menyusun program konkret yang dapat diterapkan sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Melalui perhelatan workshop tingkat nasional ini, Ponorogo tidak hanya menjadi ruang bertemunya gagasan dan jejaring pengembangan ekonomi persyarikatan, tetapi juga menunjukkan bahwa dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan.
Kolaborasi seni reog dalam agenda Jagongan Budaya menjadi bukti bahwa kekuatan budaya lokal mampu menjadi jembatan silaturahmi, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Ponorogo kepada peserta dari berbagai penjuru Indonesia.
Editor : Redaksi