Disbudparpora Ponorogo–Pepadi Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk, Dalang Bocah Ikut Tampil

Reporter : Bayu

Ponorogo, beritaplus.id — Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo terus berupaya nguri-nguri kesenian wayang kulit bersama Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Ponorogo. Upaya ini dilakukan agar wayang kulit tidak punah, tetap menjadi bagian dari identitas budaya Ponorogo, sekaligus memastikan keberlangsungan seni pedalangan.

Terbaru, Disbudparpora bersama Pepadi menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Petruk Dadi Ratu” di Mixzone Kreatif, Sabtu malam (24/1/2026). Pagelaran tersebut menghadirkan dalang senior Ki Sentho Yitno Carito Redi Suto.

Baca juga: Peduli Bahasa Jawa di Pergaulan Gugus 1 Kecamatan Ponorogo Gelar Workshop

Menariknya, dalam pagelaran itu juga tampil dalang bocah Ki Muhammad Agastya Alizein Fikra, siswa SDN 2 Sukorejo. Meski masih membaca teks, penampilannya tetap lincah dan memukau penonton, diiringi karawitan Pasopati.

Lokasi Mixzone Kreatif yang representatif dan strategis membuat masyarakat Ponorogo yang melintas tertarik untuk singgah menikmati pertunjukan. Apalagi kegiatan digelar pada malam Minggu, sehingga menjadi hiburan tersendiri bagi warga.

Tak hanya dalang senior, Disbudparpora juga menampilkan dalang dari berbagai kategori usia, mulai anak-anak, remaja, pemuda, hingga dewasa.

Kepala Disbudparpora Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, S.Sos., M.Si, melalui Kabid Kebudayaan Yayuk Herdianawati, S.H., M.Si, menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit tersebut merupakan agenda rutin setiap akhir bulan.

“Alhamdulillah, malam ini Disbudparpora bisa menggelar pertunjukan wayang kulit sebagai agenda rutin tiap akhir bulan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran serta apresiasi masyarakat terhadap wayang sebagai bagian dari warisan budaya Ponorogo.

“Wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan dan penyampaian pesan moral yang kaya akan filosofi hidup,” tambahnya.

Menurut Yayuk, para dalang juga memiliki harapan agar seni pedalangan semakin mendapatkan pengakuan serta apresiasi yang lebih luas dari masyarakat. Selain itu, dalang diharapkan memperoleh kesempatan berinovasi dan mengekspresikan kreativitas agar seni pedalangan tetap relevan dan menarik bagi masyarakat modern.

“Pada akhirnya para dalang dapat terus berkarya dan melestarikan seni pedalangan dengan baik, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan budaya. Mereka juga berharap mendapatkan kesejahteraan yang memadai sebagai imbalan atas kerja keras dan dedikasi dalam melestarikan dan mengembangkan seni pedalangan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Pepadi Kabupaten Ponorogo Drs. Sindu Parwoto, M.Si mengatakan pagelaran ini menjadi ajang kreativitas generasi muda hingga dewasa dalam rangka ikut nguri-nguri budaya Jawa, khususnya wayang kulit.

“Pagelaran wayang ini kita adakan setiap malam Minggu di akhir bulan, yang sudah dimulai sejak Januari 2025, dengan maksud agar jangan sampai wayang kulit hilang dari Ponorogo dan Indonesia,” jelasnya.

Di sisi lain, Sindu mengakui meski anggaran masih seperti tahun lalu, Pepadi tetap eksis berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten.

“Pepadi akan tetap melaksanakan tugas demi kelestarian, perkembangan, dan keagungan seni wayang kulit serta regenerasi tumbuh-berkembangnya seniman pedalangan. Warga siap membantu program pembangunan budaya di Ponorogo, khususnya wayang dan seniman pedalangan, untuk mewujudkan Ponorogo hebat,” pungkasnya. (aw)

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru