Mahasiswa KKN‑T Inovasi IPB Desa Baosan Kidul Ubah Kotoran Ternak Jadi Pupuk Kompos Lewat Program BIOTER

Reporter : Murti
Dokumentasi kegiatan BIOTER bersama Kelompok Tani Soyo Makmur dan PPL Kecamatan Ngrayun

Ponorogo - beritaplus.id | Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB PONOROGO KAB11 yang ditempatkan di Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun, menginisiasi Program BIOTER (Biokonversi Kotoran Ternak) sebagai salah satu upaya menjawab persoalan kesuburan tanah yang selama ini dikeluhkan petani setempat. Program ini berfokus pada pelatihan pembuatan kompos dan praktik langsung proses pengomposan bersama warga.

Berawal dari Observasi dan Keluhan Petani

Baca juga: Esai Reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Memahami Dilema di Tengah Harapan dan Keterbatasan Kepemimpinan Desa

Dokumentasi kegiatan BIOTER bersama Ketua Kelompok Tani Soyo Makmur Pak Sujarwanto

Program BIOTER lahir dari hasil observasi mahasiswa pada pekan pertama masa KKN. Mahasiswa menemukan indikasi permasalahan pada struktur dan kesuburan tanah di Desa Baosan Kidul. Temuan ini diperkuat melalui wawancara dengan sejumlah warga sekaligus petani setempat. Para petani mengakui bahwa struktur tanah di lahan mereka semakin keras dan menggumpal, sehingga membutuhkan usaha lebih besar dalam mengolah lahan sebelum masa tanam. Berdasarkan kajian keilmuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan, kondisi tersebut diduga disebabkan oleh kurangnya bahan organik dan mikroba dalam tanah, serta kemungkinan akibat dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Dugaan tersebu diperkuat oleh pengakuan sejumlah petani yang menyatakan bahwa pemupukan masih dilakukan secara coba-coba, tanpa mengacu pada dosis rekomendasi dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Potensi Kotoran Kambing yang Belum Terkelola Optimal

Observasi lanjutan mengungkap bahwa hampir seluruh warga Desa Baosan Kidul memelihara kambing. Ketika ditelusuri lebih jauh, para petani mengaku telah memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk kandang, namun pemanfaatan ini umumnya tidak melalui proses fermentasi yang baik sehingga berisiko membawa kontaminan seperti patogen dan gas berbahaya ke lahan pertanian. Berdasarkan temuan beberapa hal tersebut, mahasiswa melihat peluang untuk mengonversi kotoran kambing menjadi pupuk kompos yang terfermentasi dengan baik, sehingga aman digunakan sekaligus dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah ternak yang menumpuk.

Baca juga: Esai Reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Politik Bebas Aktif, Kearifan Nusantara Persembahan untuk Kedamaian Dunia  

Kolaborasi dan Pelaksanaan Program

Program BIOTER dilaksanakan dengan berbekal pengetahuan yang diperoleh mahasiswa saat pembekalan KKN di Agro Techno Park (ATP) IPB. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menggandeng Bapak Sujarwanto, Ketua Kelompok Tani Soyo Makmur Desa Baosan Kidul, yang berperan sebagai fasilitator utama untuk mendukung jalannya program. Pendampingan juga diberikan oleh tim Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Kecamatan Ngrayun.

Sebagai bagian dari edukasi, mahasiswa juga menyusun petunjuk teknis berupa poster prosedur tata cara pembuatan kompos yang mudah dipahami warga. Selanjutnya, dilakukan praktik percontohan pembuatan kompos secara langsung di lahan Kelompok Tani Soyo Makmur, tepatnya di Tegalan Cakul, Dusun Krajan, Desa Baosan Kidul, pada hari Kamis, 23 Juli 2026.

Diskusi Ilmiah bersama PPL: Soal Kapasitas Tukar Kation Tanah

Baca juga: Esai reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Kebijakan Fiskal dalam Sungai yang Berbeda Keniscayaan Ketimpangan 

Di sela pelaksanaan kegiatan, mahasiswa turut berdiskusi dengan PPL Kecamatan Ngrayun mengenai akar permasalahan tanah di Desa Baosan Kidul. Dalam diskusi tersebut, PPL menyinggung konsep Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, yakni salah satu indikator yang dapat menggambarkan seberapa banyak mikroorganisme dan unsur hara yang mampu ditahan oleh tanah. Semakin rendah KTK suatu tanah, semakin terbatas pula kemampuannya menyimpan unsur hara dan mendukung aktivitas mikroba, yang pada akhirnya berkontribusi pada kondisi tanah yang keras dan kurang subur seperti dikeluhkan petani. Penjelasan dari PPL ini semakin memperkuat dasar ilmiah dari Program BIOTER, sekaligus menegaskan bahwa penambahan bahan organik melalui kompos kotoran ternak merupakan langkah yang tepat untuk memperbaiki kondisi tanah secara bertahap. PPL turut menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program yang dijalankan mahasiswa, karena dinilai relevan dengan kebutuhan nyata petani di lapangan.

Harapan Bersama dari Berbagai Pihak

Baik mahasiswa, PPL, maupun Kelompok Tani Soyo Makmur menyampaikan harapan yang sama, yakni agar Program BIOTER tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial KKN, melainkan dapat benar-benar diterapkan dan dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan oleh masyarakat, khususnya para petani Desa Baosan Kidul. Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Inovasi Ponorogo Kabupaten 11 Desa Baosan Kidul berharap masyarakat dapat memanfaatkan limbah ternak secara lebih optimal, menekan pencemaran lingkungan, sekaligus menghasilkan pupuk organik berkualitas untuk mendukung produktivitas pertanian setempat. Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi warga untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.(Murty)

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru