Ponorogo - beritaplus.id | Sebagai upaya mendukung kemandirian sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, tim Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB PONOROGO KAB11 yang ditempatkan di Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun, melaksanakan Program Edukasi Budidaya Porang dan Teknik Pembuatan PGPR (PROTEKTOR).
Dokumentasi sosialisasi kegiatan PROTEKTOR bersama Kelompok Tani Tani Mulyo 2
Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Kamis, 30 Juli 2026 dengan melibatkan kelompok tani lokal, tokoh masyarakat, serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Kecamatan Ngrayun. Program ini berfokus pada dua agenda utama, yakni sosialisasi teknis budi daya porang yang sesuai dengan petunjuk teknis yang dipublikasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2021, serta pelatihan pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) berbasis mikroorganisme dari akar bambu.
Pelaksanaan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh besarnya potensi komoditas porang di wilayah Kecamatan Ngrayun dan Desa Baosan Kidul sendiri yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospek pasar ekspor yang menjanjikan. Meskipun demikian, sebagian besar petani di Desa Baosan Kidul masih menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari praktik budi daya yang belum terstandar hingga ancaman serangan hama dan penyakit tanaman. Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap penggunaan pupuk kimia sintetik secara terus-menerus beresiko menurunkan tingkat kesuburan dan kualitas struktur tanah dalam jangka panjang. Oleh karena itu, edukasi mengenai tata cara budidaya yang tepat serta penyediaan solusi hayati yang ramah lingkungan menjadi aspek yang sangat krusial untuk diterapkan.
Dokumentasi pembagian poster Teknis Budidaya Porang dan Pembuatan PGPR bersama Kelompok Tani Tani Mulyo 2
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi teknis mengenai tata cara budidaya porang secara komprehensif. Dalam sesi ini, tim pengabdi memaparkan panduan teknis dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang mencakup pemilihan bibit unggul, penyiapan dan pengolahan lahan yang ideal, pembuatan sistem drainase untuk mencegah pembusukan umbi, hingga manajemen pemeliharaan dan penanganan pascapanen. Diskusi juga terjadi antara petani dan mahasiswa yang saling memberi pertanyaan dan jawaban sehingga terjadi diskusi yang terasa menjadi lebih interaktif dan dua arah. Melalui pemaparan ini, para petani dibekali pemahaman mendalam agar mampu mengoptimalkan hasil panen secara efisien dan memenuhi standar mutu pasar.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktis pembuatan PGPR yang memanfaatkan bahan baku lokal, yaitu mikroorganisme dari akar bambu. Dalam perannya, PGPR bertindak sebagai pembenah kualitas tanah, pemicu pertumbuhan tanaman, sekaligus agen biokontrol dalam meminimalisasi potensi serangan hama dan penyakit tanaman. Proses pembuatan diawali dengan pengisolasian bakteri hayati melalui perendaman akar bambu segar, yang kemudian dicampurkan ke dalam media perbanyakan berbahan dasar dedak, terasi, dan gula merah. Setelah melalui proses fermentasi selama beberapa hari, formula PGPR siap diaplikasikan pada tanaman, baik sebagai media perendaman bibit maupun disiramkan langsung ke area perakaran tanah.
Harapan Keberlanjutan
Melalui alur pelaksanaan kegiatan yang terstruktur dan interaktif ini, diharapkan masyarakat petani Desa Baosan Kidul mampu mengadopsi teknik budidaya porang yang terstandar serta secara mandiri mampu memproduksi PGPR hayati. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil panen, melainkan juga untuk merawat kelestarian ekosistem tanah secara berkelanjutan demi terwujudnya ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal di masa mendatang. (murti)
Editor : Redaksi