Satu Peristiwa, Banyak Kacamata

Dzulhijjah Fajar, S.H : Refleksi atas Seni Penafsiran dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Reporter : Murti
Dzulhijjah Fajar SH

Ponorogo - beritaplus.id | Dalam dunia hukum, kita mengenal prinsip penting: fakta itu satu, namun penafsirannya bisa beragam. Inilah yang dikenal sebagai the art of interpretation - seni memahami dan memberi makna atas apa yang kita lihat. Dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, tetapi memahaminya dengan cara yang berbeda, tergantung dari sudut pandang mana ia berdiri. 
 
Sebagai bahan perbandingan, kita dapat mencermati tulisan Dr. Probo Darono Yakt yang dimuat di Lowy Institute pada 22 September 2026 dengan judul: "Strategi multialignment parsial Prabowo mulai kehilangan fokus." Beliau melihat bahwa Indonesia saat ini aktif membangun kemitraan dengan berbagai negara — Tiongkok, Rusia, Australia, BRICS, serta mitra Barat — namun menilai bahwa penambahan jumlah mitra berjalan lebih cepat dibandingkan penetapan tujuan dan batas dari masing-masing hubungan tersebut. Bagi beliau, hal ini memunculkan kekhawatiran akan adanya ketidakseimbangan pengaruh dan risiko ketergantungan yang belum teridentifikasi dengan jelas. Pandangan ini merupakan satu penafsiran yang sah, berharga, dan layak kita dengarkan.
 
Namun, penafsiran bukanlah kebenaran tunggal yang mutlak. Jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, apa yang tampak sebagai "kehilangan fokus" dapat juga dimaknai secara berbeda. Membuka berbagai kemitraan pada tahap awal dapat pula dipahami sebagai upaya memperluas pilihan sebelum menentukan prioritas akhir. Seorang yang menyusun strategi sering kali memang terlebih dahulu memetakan medan, mengenali potensi, dan membuka berbagai peluang, baru kemudian menyusun langkah mana yang akan dijalankan lebih lanjut. Proses ini memang belum selalu terlihat rapi pada permukaannya.
 
Latar belakang Presiden Prabowo Subianto sebagai seorang Jenderal yang terlatih menyusun strategi, sekaligus politisi yang memahami dinamika kekuasaan, menguatkan kemungkinan adanya proses yang sedang berjalan. Langkah-langkah yang tampak terpisah saat ini belum tentu tidak memiliki benang merah di baliknya. Kita mungkin sedang melihat satu bagian dari gambaran yang lebih besar yang belum selesai terlihat sepenuhnya.
 
Seni penafsiran mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan di tengah perjalanan. Apa yang terlihat belum teratur hari ini, belum tentu akan demikian selamanya. Waktu dan konsistensi pelaksanaan akan memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan penilaian di tengah proses.
 
Perbedaan pandangan seperti yang tercermin dalam tulisan Dr. Probo justru memperkaya cara kita memandang kebijakan bangsa. Beliau mengingatkan kita untuk tetap waspada terhadap risiko, sementara waktu akan terus membuktikan mana yang benar-benar membawa manfaat bagi rakyat Indonesia. Semoga berbagai sudut pandang ini bukan memisahkan kita, melainkan menjadikan kita semakin bijaksana dalam mengawal langkah bangsa di panggung dunia. (24 Sep 2026)

Penulis Dzulhijjah fajar S.H Alumni Universitas Merdeka Malang, Mantan Ketua Eksekutif Komnas LP-KPK Komcab. Ponorogo

Baca juga: Esai Reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Memahami Dilema di Tengah Harapan dan Keterbatasan Kepemimpinan Desa

 

Baca juga: Esai reflektif Dzulhijjah Fajar, S.H : Kebijakan Fiskal dalam Sungai yang Berbeda Keniscayaan Ketimpangan 

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru