Dorong Transisi Green Economy, UWP Susun Model Sinkronisasi Kebijakan Green Bond dan Green Building
Surabaya, beritaplus.id | Bayangkan dua kereta yang berjalan di atas rel paralel. Keduanya menuju tujuan yang sama, namun tak pernah bertemu. Itulah gambaran yang digunakan Dwi Elok Indriastuty, SH., M.Hum., ketua peneliti Universitas Wijaya Putra (UWP), untuk menggambarkan kondisi kebijakan green building dan instrumen pembiayaan green bond di Indonesia.
"Selama ini, kebijakan green building dan instrumen pembiayaan green bond ibarat dua rel yang berjalan paralel tanpa titik temu," ujarnya di sela Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Resto Nine, Sabtu 19 September 2026.
FGD bertajuk "Sinkronisasi Pengaturan Green Bond Sebagai Instrumen Pembiayaan Green Building Dalam Upaya Mewujudkan Transisi Green Economy" ini merupakan bagian dari penelitian hibah Penelitian Fundamental-Reguler Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026. Tim peneliti terdiri dari Dwi Elok Indriastuty, SH., M.Hum., Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum., dan Nur Hidayatul Fithri, SH., MH.
Sektor bangunan, menurut tim peneliti, merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar, di samping transportasi dan industri. Namun, hingga kini belum ada pengaturan pembiayaan yang spesifik untuk pembangunan green building di Indonesia.
Di sisi lain, pengaturan mengenai penerbitan green bond sebenarnya memberikan peluang alternatif pembiayaan atau pembiayaan ulang (refinancing) bagi pembangunan green building.
Sayangnya, terdapat ketidaksinkronan antara arah kebijakan green building dengan instrumen pembiayaan green bond yang ada.
"Ketidaksinkronan inilah yang menyebabkan pembangunan green building di Indonesia masih berjalan lambat karena terkendala pembiayaan," jelas Dwi Elok.
Melalui penelitian ini, tim UWP ingin merumuskan model sinkronisasi yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi dapat diimplementasikan secara praktis.
"Green bond harus menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan pembangunan green building dengan target transisi green economy nasional. Ini adalah momen yang tepat, karena isu ini sejalan dengan prioritas RPJMN 2025-2029," tambahnya.
Pada tahun pertama, metode penelitian diarahkan pada tiga hal utama, yaitu mengidentifikasi dan menganalisis kebijakan terkait penerbitan green bond untuk pengembang green building; menyusun kerangka model sinkronisasi kebijakan green bond sebagai instrumen pembiayaan green building; dan menyusun artikel ilmiah untuk publikasi internasional.
Luaran tahun pertama meliputi tersusunnya kerangka model sinkronisasi kebijakan green bond sebagai instrumen pembiayaan green building.
Hasil penelitian ini telah diterima (accepted) untuk publikasi pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q3, Veredas do Direito. Tim peneliti juga tengah mengurus pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk Model yang dikembangkan.
Sebagai luaran tambahan, artikel ilmiah dari penelitian ini juga telah disubmit ke Jurnal Cendekia Hukum, jurnal nasional bereputasi terindeks Sinta 3.
Kegiatan FGD ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Wijaya Putra sebagai kampus sociopreneur dengan semangat impactful UWP.
Melalui penelitian dan kolaborasi lintas sektor, UWP tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan yang berdampak langsung pada percepatan transisi green economy di Indonesia.
Diharapkan, hasil dari FGD dan penelitian ini dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem pembiayaan hijau yang terintegrasi, khususnya untuk sektor bangunan ramah lingkungan.(syd)
Editor : Redaksi