Pasuruan, beritaplus.id | Gesekan politik menjelang konsolidasi menuju 2029 mulai terasa hangat di Kota Pasuruan. Ketidakhadiran jajaran pimpinan Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan dalam penutupan dan penyerahan piala Turnamen Kejuaraan Pencak Silat Madinah van Java se-Jawa Timur di GOR Kota Pasuruan, Minggu (20/9/2026) siang. Hal ini menuaikan kritik pedas dari kalangan legislatif.
Sorotan tajam itu meluncur langsung dari anggota Komisi 2 DPRD Kota Pasuruan dari Fraksi PKB, Bahruddin. Di atas mimbar, saat mewakili penyerahan apresiasi kepada Juara Umum 1 yang diraih Perguruan Pencak Silat Kuntu Mancilan, Bahruddin secara terbuka menyentil sikap dingin Pemkot Pasuruan terhadap ajang olahraga bergengsi tersebut.
Baca juga: “Tsunami Mutasi” 138 ASN Pasuruan Disorot, LIRA Jatim Curigai Aroma Transaksional
Sikap Pemkot yang dinilai memandang sebelah mata penutupan ajang ini memicu jargon legendaris yang memantik riuh penonton di GOR.
"Dispora mboten rawuh nggeh? Pemkot e nggeh mboten rawuh? Perwakilan Pemkot nggeh boten enten? Waduh.... Gak Bahaya tha acara silat, perwakilan Pemkot mboten enten seng rawuh, gak bahaya tha...!!!" celetuk Bahruddin dari atas mimbar dengan nada sindiran mendalam.
Bahruddin menyampaikan apresiasinya kepada Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Pasuruan, Farid Misbah, yang dinilai konsisten dan gigih membina serta mengangkat prestasi cabang olahraga (cabor) pencak silat. Namun, kegigihan pegiat olahraga tersebut justru berbanding terbalik dengan kepedulian jajaran eksekutif.
Baca juga: Mutasi Pejabat Kota Pasuruan, Wagub LIRA Jatim Ingatkan: Jangan Ada Titipan Politik!
Satu pun perwakilan pejabat Pemkot Pasuruan, termasuk Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) hingga Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo (Golkar), tidak nampak batang hidungnya di lokasi acara. Padahal, seremoni penutupan merupakan puncak apresiasi bagi para atlet muda se-Jatim yang telah berjuang membawa nama harum daerah.
Absennya perwakilan Pemkot yang hanya hadir saat pembukaan dan "menghilang" di acara puncak mengundang spekulasi liar di tengah publik. Banyak pihak mulai mempertanyakan: apakah ketidakhadiran ini murni akibat kelalaian administrasi protokoler, ataukah sinyal awal pergesekan politik antara kekuatan "Hijau" (PKB) di legislatif dan "Kuning" (Golkar) di eksekutif?
Baca juga: Diduga Maladministrasi Sewa Aset Pemkot Pasuruan Berpotensi Kerugian Negara. Kini Jadi Temuan BPK
Pencak silat bukan sekadar cabang olahraga, melainkan wujud pelestarian budaya lokal dan basis massa yang riil di Jawa Timur. Ketidakpedulian Pemkot Pasuruan menghargai keringat para juara di kandang sendiri dinilai sebagai bentuk 'keceplosan' komunikasi politik yang fatal.
Pernyataan "Gak Bahaya Tha" dari anggota DPRD tersebut seolah menjadi sinyal peringatan keras (alarm) bagi kepemimpinan Kota Pasuruan. Di saat konstelasi politik mulai ditata menuju agenda politik mendatang, mengabaikan potensi atlet lokal dan simpul massa olahraga tradisional dapat menjadi ancaman serius bagi citra dan stabilitas dukungan Pemkot di mata masyarakat. ( jin)
Editor : Redaksi