KTH Wono Lestari Tuban : Pengeringan Jagung Jadi Kunci Nilai Tambah Dalam Strategi Bisnis Perhutanan Sosial
Tuban - beritaplus.id | Pengembangan usaha dalam skema perhutanan sosial tidak lagi cukup bertumpu pada produksi. Kunci peningkatan kesejahteraan anggota justru terletak pada bagaimana hasil panen diolah, dikelola, dan dipasarkan. Hal ini mulai dibuktikan oleh KTH Wono Lestari Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, yang mendorong transformasi dari penjualan jagung basah ke sistem pengeringan terintegrasi berbasis kawasan.
Proses Pembangunan Gudang Pengolahan Pasca panen jagung KTH Wono Lestari Tuban
Selama ini, sebagian besar petani hutan menjual jagung dalam kondisi basah segera setelah panen. Kondisi tersebut membuat posisi tawar lemah karena harga ditentukan oleh tengkulak dan fluktuasi pasar saat panen raya. Selisih harga antara jagung basah dan jagung kering dengan kadar air standar bisa mencapai ratusan hingga ribuan rupiah per kilogram—sebuah potensi nilai tambah yang selama ini hilang di tingkat petani.
Ketua KTH Wono Lestari, Sudarlim, melihat celah tersebut sebagai peluang bisnis. Melalui pendekatan kolektif, kelompok tani hutan mulai mengembangkan unit pengeringan jagung di dalam kawasan perhutanan sosial. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi anggota.
“Selama ini petani menjual cepat karena takut jagung rusak. Padahal kalau dikelola dengan pengeringan yang baik, nilai jualnya bisa jauh lebih tinggi dan stabil,” ujarnya.
Secara bisnis, pengembangan pengeringan jagung memiliki beberapa keunggulan strategis. Pertama, standarisasi kadar air hingga sekitar 14 persen membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk industri pakan ternak dan pengolahan pangan. Kedua, kualitas yang seragam meningkatkan kepercayaan pembeli dan membuka peluang kemitraan jangka panjang dengan offtaker.
Selain itu, pengeringan juga memungkinkan penerapan sistem tunda jual. Dengan dukungan gudang penyimpanan, KTH dapat menahan stok saat harga rendah dan melepasnya ketika pasar menguat. Strategi ini secara langsung meningkatkan margin keuntungan dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak.
Dari sisi ekosistem usaha, model ini juga sejalan dengan konsep ekonomi hijau berbasis perhutanan sosial. Limbah jagung seperti tongkol dan klobot dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengering atau pakan ternak, sehingga menciptakan sistem usaha yang efisien dan minim limbah. Integrasi dengan kegiatan agroforestry di kawasan hutan juga memperkuat keberlanjutan produksi.
Namun demikian, pengembangan unit pengeringan tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan modal awal, akses terhadap teknologi pengering, serta kapasitas manajemen usaha menjadi faktor penentu keberhasilan. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah melalui dinas terkait, maupun program CSR perusahaan dinilai sangat krusial untuk mendorong percepatan.
Pengamat perhutanan sosial menilai, langkah seperti yang dilakukan KTH Wono Lestari merupakan contoh nyata pergeseran paradigma dari produksi ke hilirisasi. Perhutanan sosial tidak lagi hanya dilihat sebagai program akses lahan, tetapi sebagai platform pengembangan usaha berbasis komunitas.
Jika model ini direplikasi secara luas, pengeringan jagung dapat menjadi entry point penguatan ekonomi kelompok tani hutan. Tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok nasional.
Dengan demikian, masa depan perhutanan sosial sangat ditentukan oleh kemampuan kelompok dalam mengelola nilai tambah. Dan di Tuban, langkah kecil dari proses pengeringan jagung telah membuka jalan menuju kemandirian ekonomi yang lebih kuat bagi petani hutan.
Editor : Redaksi