Layanan Kesehatan Terpadu KKN-Kebencanaan Unand di Batu Busuk: Skrining Dini dan Edukasi Kesehatan Masyarakat
Oleh: Jihan Syakira (Mahasiswa KKN-Kebencanaan Kapalo Koto 7 Universitas Andalas)
Padang - Suasana Batu Busuk tampak cukup berbeda sejak pagi hari. Halaman Masjid Al Ikhlas mulai dipenuhi aktivitas mahasiswa KKN-Kebencanaan Kapalo Koto 7 Universitas Andalas yang berkolaborasi dengan mahasiswa KKN-Kebencanaan Kapalo Koto 3 Universitas Andalas. Sekitar pukul 08.00 WIB, persiapan kegiatan layanan kesehatan terpadu dimulai dengan penyusunan meja pemeriksaan, pengecekan alat kesehatan, serta koordinasi alur pelayanan bersama tenaga medis dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Pauh, Kota Padang.
Kegiatan ini bukan sekadar pelaksanaan program kerja, tetapi juga bentuk pengabdian kepada masyarakat Batu Busuk yang masih berada dalam proses pemulihan pascabencana. Masjid yang biasanya menjadi pusat ibadah, pagi itu berfungsi sebagai ruang pelayanan kesehatan bagi warga.
Sejak tahap perencanaan, kami memahami bahwa akses layanan kesehatan masih menjadi tantangan, baik karena jarak, keterbatasan waktu, maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, layanan kesehatan langsung di tengah masyarakat diharapkan dapat menjangkau warga secara lebih mudah dan merata.
Sekitar pukul 10.00 WIB, layanan kesehatan resmi dimulai. Masyarakat berdatangan dengan tertib dan antusias, baik secara individu maupun bersama keluarga. Pemeriksaan diawali dengan pengukuran antropometri yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut.
Dari pemeriksaan ini, kami mulai memperoleh gambaran awal mengenai status gizi serta potensi risiko penyakit metabolik. Banyak warga yang baru pertama kali mengetahui data dasar kondisi tubuhnya, sesuatu yang selama ini jarang diperhatikan.
Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan pengukuran tekanan darah. Pada tahap ini, kami menemukan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang cukup dominan.
Tidak sedikit warga yang tampak terkejut saat mengetahui tekanan darahnya berada di atas batas normal, meskipun sebelumnya merasa tidak memiliki keluhan.
Temuan ini menjadi perhatian penting, mengingat hipertensi sering kali tidak bergejala namun berisiko tinggi menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat untuk memperoleh gambaran kondisi metabolik yang lebih menyeluruh.
Dari hasil pemeriksaan, sebagian warga menunjukkan kadar gula darah dan kolesterol yang cukup tinggi. Temuan-temuan ini tidak hanya menjadi hasil pemeriksaan individu, tetapi juga dicatat sebagai data awal yang berharga dan dapat dimanfaatkan oleh Puskesmas Pauh serta pihak terkait untuk perencanaan tindak lanjut pelayanan kesehatan di wilayah Batu Busuk.
Selama kegiatan berlangsung, saya berkesempatan berinteraksi langsung dengan warga. Salah satunya adalah Bapak Al-Ashari, yang sedang menunggu antrian pemeriksaan tekanan darahnya. Dan setelah mengetahui hasilnya, beliau mengungkapkan keterkejutannya.
“Selama ini saya merasa sehat-sehat saja,” ujarnya. “Setelah diperiksa, baru tahu kalau tekanan darah saya tinggi. Jadi sekarang saya lebih waspada dan harus mulai menjaga pola makan.”
Percakapan tersebut memperkuat pemahaman saya tentang pentingnya deteksi dini penyakit tidak menular di tingkat masyarakat, terutama bagi warga yang jarang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Selain hipertensi, kami juga cukup sering menemukan keluhan penyakit kulit, seperti gatal-gatal, ruam, dan iritasi yang telah berlangsung cukup lama. Kondisi lingkungan pascabencana, kualitas air, serta kebersihan yang belum sepenuhnya pulih diduga menjadi faktor pemicu munculnya keluhan tersebut. Temuan ini kembali dicatat sebagai masalah kesehatan yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut dari tenaga kesehatan.
Saya juga berbincang dengan Ibu Indah, seorang ibu rumah tangga yang datang bersama keluarganya. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membantu masyarakat.
“Biasanya kami periksa kalau sudah sakit saja,” tuturnya. “Di sini kami diperiksa lengkap dan dijelaskan hasilnya, jadi lebih paham bagaimana menjaga kesehatan ke depan.”
Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, hasil kesehatan warga dievaluasi oleh dokter yang bertugas. Dokter menjelaskan kondisi kesehatan masing-masing warga dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Bagi warga yang membutuhkan pengobatan, dokter memberikan resep sesuai indikasi, dan obat dapat langsung ditebus di lokasi kegiatan. Mekanisme ini sangat membantu masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan.
Selain pelayanan medis, kami sebagai mahasiswa juga melakukan penyuluhan kesehatan secara tatap muka dengan menggunakan leaflet edukatif yang telah disusun sebelumnya. Leaflet tersebut berisi penjelasan mengenai jenis pemeriksaan yang dilakukan, makna hasil pemeriksaan jika nilainya terlalu tinggi atau terlalu rendah, serta anjuran pola hidup sehat, termasuk makanan yang dianjurkan dan perlu dibatasi. Penyuluhan dilakukan secara personal, sehingga warga dapat langsung bertanya sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Menjelang akhir kegiatan, suasana semakin hangat dengan pemberian bingkisan bantuan kepada masyarakat. Bingkisan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tangga Darurat Bencana (Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan) yang didukung oleh DPPM Kemdiktisaintek dan Universitas Baiturrahmah.
Bagi masyarakat Batu Busuk, bantuan ini bukan hanya bernilai materi, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan kehadiran berbagai pihak dalam proses pemulihan mereka. Kegiatan ditutup pemberian bingkisan makan siang gratis yang disediakan oleh Puskesmas Pauh. Secara keseluruhan, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 60 partisipan yang aktif dan antusias.
Pembagian bingkisan bantuan dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tangga Darurat Bencana (Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan) yang didukung oleh DPPM Kemdiktisaintek dan Universitas Baiturrahmah dan makan siang gratis dari Puskesmas Pauh kepada Masyarakat (Foto: Jihan Syakira)
Bagi saya pribadi, pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang arti pengabdian kepada masyarakat. Temuan tingginya prevalensi hipertensi dan penyakit kulit di Batu Busuk menjadi catatan penting yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai data awal untuk tindak lanjut pelayanan kesehatan.
Sebagai mahasiswa KKN Kebencanaan Kapalo Koto 7 Universitas Andalas, saya bangga dapat menjadi bagian dari kegiatan ini. Meski langkah yang kami ambil masih terbatas, kepedulian, kolaborasi, dan kehadiran langsung di tengah masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun kesehatan bersama.(*)
Editor : Redaksi